Lo lagi jalan-jalan di mall, liat resto baru yang jual burger. Ada label halal MUI gede-gedean. Tapi dagingnya bukan daging sapi biasa, tapi “cultured meat” — daging yang ditumbuhkan di lab dari sel hewan. Masih halal nggak ya? Atau lo beli susu yang nggak dari sapi, tapi dari mikroba yang direkayasa genetika. Ini pertanyaan yang bakal makin sering kita denger.
Di 2025, urusan kuliner halal nggak lagi sesimpel cek ada labelnya atau nggak. Kita masuk ke era dimana definisi “hewani” dan “nabati” sendiri jadi blur.
Beyond Label: Ketika Teknologi Ngejutin Agama
Dulu, prinsipnya jelas. Daging halal itu dari hewan yang disembelih dengan nama Allah. Tapi gimana kalo dagingnya tumbuh di bioreaktor, tanpa pernah ada hewan utuh yang hidup dan disembelih?
Ini beberapa contoh nyata yang udah ada di depan mata:
- Cultured Meat (Daging Budaya): Ilmuwan ambil sedikit sel dari sapi hidup (tanpa nyakitin). Sel itu dikasih nutrisi dan ditumbuhin jadi daging di lab. Pertanyaannya: Apakah ini daging? Iya. Tapi apakah ini “hewan” yang harus disembelih? Nggak. Ulama lagi sibuk debat ini. Ada yang bilang selama sel awalnya halal dan medium tumbuhnya suci, ya halal. Tapi yang lain ngeragukan status “kehewanannya”.
- Precision Fermentation (Fermentasi Presisi): Ini lebih gila lagi. Perusahaan kayak Perfect Day bikin susu dan whey protein tanpa sapi. Mereka ambil gen pembuat protein susu dari sapi, trus masukin ke mikroba (kaya ragi). Mikroba ini difermentasi, ngeluarin protein susu yang persis sama. Hasilnya? Susu yang rasanya dan nutrisinya kayak susu sapi, tapi 100% nabati. Halal? Secara zat mungkin iya. Tapi secara proses? Nggak semua orang nyaman.
- Flavor Synthetics (Perisa Sintetis): Daging bacon rasa asap yang bikin nagih, ternyata nggak pake babi sama sekali. Rasanya diciptain di lab dari senyawa kimia. Tapi… senyawa awalnya bisa aja dari sumber yang nggak halal. Ini yang susah banget lacaknya.
Survei terhadap 1,000 konsumen Muslim di perkotaan (data fiktif tapi realistis) menemukan bahwa 72% merasa khawatir akan kehalalan makanan sintetis, dan 85% menginginkan adanya standar sertifikasi baru yang khusus menangani kategori makanan hasil rekayasa ini.
Common Mistakes: Jangan Sampai Kita Tertinggal dan Hanya Bisa Pasrah
- Hanya Mengandalkan Label Saja: Di era baru ini, label “halal” di kemasan mungkin nggak cukup. Kita harus melek proses di baliknya. Tanya: “Bahan bakunya dari mana? Proses pembuatannya gimana?”
- Anti-Teknologi dan Langsung Menolak: Sikap “takut dulu” tanpa mau memahami science-nya justru bikin kita tertinggal. Kita harus aktif cari info dan dengar penjelasan para ahli agar bisa ambil keputusan yang tepat.
- Menganggap Semua yang “Nabati” Otomatis Halal: Di era precision fermentation, batas nabati dan hewani kabur. Microba yang dipake bisa aja dikasih makan medium yang mengandung unsur haram. Jadi, “plant-based” bukan jaminan lagi.
Tips Buat Konsumen Muslim yang Melek Teknologi
- Cari Sertifikasi yang Spesifik: Nanti akan muncul lembaga sertifikasi yang khusus audit proses produksi makanan sintetis. Cari logo mereka, bukan cuma logo halal umum.
- Pelajari Perusahaan dan Transparansinya: Cari tau company behind the product. Perusahaan yang baik akan terbuka soal sumber gen, medium pertumbuhan, dan seluruh proses produksi mereka.
- Tanyakan pada Ahli yang Tepat: Jangan cuma tanya ke ustadz yang mungkin belum paham bioteknologi. Cari pencerahan dari kombinasi ulama dan ilmuwan Muslim yang mendalami bidang ini. Lembaga seperti LPPOM MUI punya tim ahli yang khusus neliti hal-hal beginian.
- Trust Your Instinct (Ikuti Prinsip Hati-Hati): Kalo masih ragu-ragu banget dan nggak nemu jawaban yang meyakinkan, lebih baik tinggalkan. Prinsip ihtiyath (kehati-hatian) dalam Islam selalu jadi panduan yang aman.
Jadi, masa depan kuliner halal di 2025 itu menantang sekaligus menarik. Kita dipaksa buat lebih pinter, lebih kritis, dan lebih aktif dalam menuntut kejelasan. Ini bukan lagi tentang menghindari babi dan alkohol, tapi tentang memahami etika bioteknologi dan proses produksi yang super kompleks.
Kita nggak bisa lagi cuma jadi konsumen pasif. Kita harus jadi konsumen yang cerdas, yang nggak cuma peduli “apa” yang kita makan, tapi juga “bagaimana” makanan itu hadir di piring kita.

